Tujuan Pendidikan
Nama : Vatima Az Zahra
Nim : 12401010
Kelas : 2 (A)
Prodi : PAI ( Pendidikan Agama Islam )
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Dr. Syamsul Kurniawan M.Si
Khairunnisyah M.Pd
MEMBANGUN PEMIKIRAN GENERASI MUDA MELALUI REKONTRUKSI EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI
Saat ini kita sudah masuk ke era globalisasi atau yang biasa disebut dengan era society 5.0, yang di mana perkembangan teknologi dan informasi semakin cepat dan pesat. Masuknya informasi yang berasal dari budaya asing membuat generasi muda saat ini mudah terbawa arus oleh perkembangan zaman tersebut. Pada saat ini juga perkembangan teknologi sudah meluas terutama gadget yang sering digunakan oleh kalangan masyarakat.
Serta yang sedang terkenal dan hangat saat ini dikenal media sosial, yang di mana media sosial tersebut terdapat berbagai macam informasi konten ataupun berita yang sangat tersebar luas baik itu positif maupun negatif. Dan apabila tidak disaring secara benar serta tepat maka informasi ataupun konten tersebut akan membuat kita gampang terpengaruh yang padahal sudah jelas bahwa informasi tersebut itu salah tapi generasi muda saat ini sudah sangat malas untuk berpikir kritis dan serba ingin instan.
Seperti kasus saat ini dan di mana saya sendiri sebagai penulis terlibat dalam kasus ini. Yang terkadang malas untuk menganalisis atau mencari kebenaran mengenai informasi yang sedang tersebar saat ini, sehingga membuat pemikiran anak muda saat ini sangat dangkal dan mudah dibohongi oleh penjajah. Padahal di dalam Alquran sendiri sudah menjelaskan dalam surah Al-Hajj ayat 46.
Artinya : "Tidaklah mereka berjalan di bumi sehingga hati (Akal) mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada". Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Alquran menekankan kita untuk berpikir dan merenungi segala sesuatu yang datang menghampiri kita agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan.
Oleh karena itu pendidikan Islam memiliki peranan dan tujuan yang sangat penting untuk generasi muda zaman sekarang dalam mengembangkan cara berpikirnya agar lebih kritis dan realistis, serta menjadikan generasi muda saat ini untuk menciptakan inovasi dan kreativitas baru yang berdasarkan nilai-nilai spiritual keagamaan di era persaingan globalisasi saat ini. Adapun salah satu cara untuk membangun serta mengembangkan itu semua dengan melalui rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam yaitu dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi saat ini, hal tersebut sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pendidikan Islam tidak tertinggal dan mampu memanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Yang mampu memberikan perubahan pola pikir serta perilaku di kalangan generasi muda saat ini.
Lalu apa itu pendidikan?
Pada hakikatnya pendidikan merupakan proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap serta bentuk tingkah laku di lingkungan hidup pendidikan juga adalah semua pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup ( Turmuzi. M. 2021:264 ). Menurut Kurniawan.S. & Ria. M. (2022) Pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membina kalau aku manusia baik individu maupun sosial, untuk mengarahkan potensi baik potensi dasar ( Fitrah ) maupun ajar yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spiritual berlandaskan nilai Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Sedangkan menurut Elman. M. M. (2020) Dalam dunia pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, kajian epistemologis merupakan sebuah dasar dari cara berfikir rekonstruksi dan menumbuhkan mentalitas keilmuan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka dari itu setiap pendidikan selalu senantiasa dituntut untuk mampu mengimbangi perkembangan zaman. Aliran rekonstruksionisme adalah salah satu aliran dalam filsafat pendidikan yang berupaya merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern, serta berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya (Nasikin. M. & Khojir 2021:706).
Aliran rekonstruksionisme merupakan suatu arus pemikiran yang berupaya untuk mengubah struktur yang sudah ada dan membangun pola hidup kebudayaan yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan dalam dunia modern. Selain itu, pendidikan Islam berbasis rekonstruksi ini menempatkan kesiapan menghadapi perubahan global sebagai prioritas. Mahasiswa dilatih untuk memiliki keterampilan adaptasi, daya inovasi, dan pemecahan masalah agar dapat berkontribusi secara positif dalam lingkungan yang terus berubah. ( Iffah. A. A. Dkk 2023:272-273 ). Dapat disimpulkan bahwasannya kemampuan dalam berfikir itu perlu dilatih untuk menghadapi berbagai tantangan yang sedang terjadi dan akan mendatang, berawal dari fikiran yang positif tersebut akan menciptakan sebuah inovasi atau kreatif baru yang akan memberikan perubahan terhdap kehidupan terutama bidang pendidikan.
Adapun tantangan pendidikan Islam saat ini seperti revolusi industri 4.0 dan 5.0 menuntut transformasi dalam sistem pendidikan. Teknologi digital, yang mengubah cara manusia belajar dan mengakses pengetahuan. Namun, banyak lembaga pendidikan Islam yang belum siap menghadapi realitas ini akibat keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi di kalangan guru, serta belum adanya kebijakan digitalisasi pendidikan Islam yang terstruktur. Selain itu tantangan pendidikan sekarang juga adalah minimnya nilai moral pada anak generasi muda, pemikiran yang dangkal dan literasi membaca yang masih kurang. Sehingga hal itu menjadi tantangan dalam pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang emas.
Aziz. A. Dkk (2025) mengkritik bahwa banyak lembaga pendidikan Islam masih terjebak dalam pendekatan tradisional yang terlalu berorientasi pada masa lalu dan tidak memiliki visi ke depan yang jelas. Ketergantungan pada metode lama serta minimnya inovasi menyebabkan pendidikan Islam ketinggalan dalam merespons dinamika sosial, budaya, dan kemajuan teknologi yang terus berkembang. Akibatnya, lulusan pendidikan Islam kerap kali belum dibekali dengan keterampilan dan cara berpikir yang sesuai dengan kebutuhan era digital dan masyarakat global. Serta kurikulum Pendidikan Islam Mengalami Perubahan Paradigma di Dunia Nyata.
Adapun pendapat dari penulis sendiri bahwa untuk menghadapi permasalahan ataupun tantangan yang sedang terjadi saat ini perlulah Meningkatkan Profesionalitas Guru dalam Perspektif Islam, sebagaimana dalam AlQur’an surat Ali Imran ayat 190-191. Guru sebagai ulul albab adalah sosok yang menyatukan kekuatan akal dan hati rasionalitas dan spiritualitas. Lalu mereformasi Kurikulum dan Pembelajaran yang Mendorong Partisipasi Aktif. Serta hal yang sangat penting saat ini adalah menyiapkan generasi muda yang inovatif, kritis, kreatif, bertanggung jawab, berakhlak mulia dan sebagainya. Yaitu dengan menekankan dan mengajarkan mereka untuk belajar berfikir secara kritis dan mendalam, serta mampu membedakan kebenaran dan kebohongan.
Dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam di era globalisasi bertujuan membangun generasi muda yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan kompetitif global. Ini membutuhkan integrasi nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern melalui kurikulum dan metode pembelajaran yang inovatif, serta pembinaan karakter yang kuat.
Referensi :
Aziz. A. (2025). Tantangan dan Problematika Pendidikan Masa Kini dalam Perspektif Islam di Era Globalisasi. Jurnal kajian Pendidikan Islam 2(2).
Elman. M. M. (2020). KERANGKA EPISTEMOLOGIS ( Metode Rekontruksi Pendidikan Agama Islam ). Jurnal Pendidikan Islam 1(2).
Iffah. A. A. Dkk. (2023). Pendidikan Islam Berbasis Rekontruksi di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Tuntas 1(4).
Kurniawan. S. & Ria. M. (2022). Buku Ajar Pendidikan Islam. Pontianak Kalbar.
Nasikin. M. & Khojir. ( 2021). Rekontruksi Pendidikan Islam Di Era Society 5.0. Crosh Border 4(2).
Turmudzi. M. (2021). Konsep Pendidikan Dan Islam Sebagai Alternatif Dalam Memanusiakan Manusia. Jurnal Pendidikan Islam 19(2).
Komentar
Posting Komentar